10 Tips Wajib untuk Memulai Belajar Digital Painting dengan Optimal
Ingin memulai belajar digital
painting? Ternyata banyak sekali hal-hal yang perlu dipahami agar proses
belajar kita bisa optimal. Ada 10 hal yang akan bikin digital painting
kita keren, apa saja?
Digital painting adalah hal yang tricky.
Kita mendapat software yang tepat dan kita dengan segera bisa mulai
menggambar. Setiap tool, bahkan yang paling keren bisa kita miliki.
Semua warna sudah tersedia, tidak perlu repot mencampur warna lagi.Jika
kita sudah menguasai media tradisional dengan baik, hal itu tidak akan
menjadi hal yang sulit, kita hanya perlu mencari tool favorit kita.
Namun apabila kita adalah pemula dalam media tradisional dan digital,
ini bisa menjadi mimpi buruk, namun ironisnya hal ini selalu menjadi
impian semua orang: langsung belajar media digital!
Rumitnya Photoshop sebagai media digital
painting sebenarnya justru diakibatkan oleh berbagai kemudahan yang
ditawarkan, tersedia set brush, warna, penghapus dan Undo. Ketika kita
memulai painting dan terlihat kurang bagus, kita akan mencari tools lain
untuk membuatnya lebih baik. Begitu banyak tools yang tersedia! Kita
mencoba semuanya satu satu dan berharap “keajaiban” terjadi.
Keajaiban ini berarti kita telah membiarkan photoshop menggambar
untuk kita dan kita tidak memiliki kontrol terhadap photoshop, namun
bagi seorang pemula “keajaiban” ini masih terlihat lebih baik daripada
apa yang mereka bisa saat ini. Hal ini mendorong mereka segera memulai
painting dengan cukup mengandalkan photoshop dan berharap suatu saat
menjadi masterpiece. Seorang digital painting artist profesional yang kita kagumi
memang menggunakan photoshop untuk menghidupkan ide mereka, namun mereka
menggunakannya sebagai tools bukan mesin pencipta art. Jadi apa bedanya?
Profesional membayangkan sebuah efek dan membuat program melakukannya.
Pemula menginginkan program melakukan sesuatu untuk mereka dan apabila mereka puas, mereka akan memakainya.
Apakah opsi kedua terdengar familiar? Jika iya, teruskan baca. Dalam
artikel ini, kita akan mengembangkan 10 aspek berbeda dalam alur kerja
kita sehingga kita menjadi artist Photoshop yang memiliki pemahaman yang
baik. Dengan 10 tips sederhana ini, kita akan mengerti kesalahan yang
mungkin menghambat kemajuan kita selama ini.
Catatan: masalah yang dijelaskan di sini berlaku pada situasi di
mana artist memperoleh hasil efek dengan “tidak sengaja” sementara
mereka berharap painting yang realistik. Hal ini bukan sebuah
ketidaksengajaan apabila kita merencakanannya.
1. Ukuran kanvas yang salah
Memulai painting adalah hal yang sangat mudah. Mulailah dengan opsi File > New, atau bisa menggunakan pintas Control-N. Terlihat sangat mudah hingga sering diabaikan.
Ada 3 masalah yang sering terjadi.
1. Canvas yang terlalu kecil.
Apabila benda disusun oleh atom, maka painting disusun oleh pixel.
Berapa sesungguhnya pixels yang kita butuhkan untuk menggambar yang
detail? 200×200? 400×1000? 9999×9999?
Kesalahan awal adalah menggunakan canvas seukuran montior yang kita
gunakan, padahal kita tidak tahu seberapa besar resolusi yang digunakan
orang-orang yang akan melihat artwork kita.
Artwork di bawah ini dibuat dalam resolusi 1024×600 dan terlihat
makin kecil pada ukuran monitor yang makin besar sampai dengan ukuran
1920×1200 (gambar ke-5). Pada monitor terbesar, resolusi gambar akan
pecah ketika diperbesar.
Apabila gambar kita dilihat melalui smartphone, biasanya smartphone
memiliki pixel yang dipadatkan dalam layar yang kecil. Akan terlihat
perbedaan seperti di bawah ini:
Ukuran sama, resolusi beda
Ukuran beda, resolusi sama.
Apa artinya? Artwork yang telah kita buat seukuran monitor kita akan
memiliki kemungkinan terlihat kecil pada monitor orang lain:
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah detail. Dengan resolusi yang
terlalu kecil kita akan kesulitan mengerjakan bagian dengan detil karena
tidak ada pixel yang cukup tersedia.
Salah satu triknya adalah ketika kita membuat painting obyek kecil
dalam resolusi besar, ingatlah bahwa obyek yang tidak detail akan
terlihat menarik dalam ukuran kecil/dilihat dari jauh akan menarik dan
terlihat sebagai sebuah obyek yang terencana. Resolusi yang besar membuat kita bisa memperbesar tampilan hingga pada detil yang paling kecil.
2. Kanvas yang terlalu besar.
Apakah ini artinya kita harus selalu menggunakan resolusi besar untuk
mendapatkan keleluasaan? Secara teori memang benar demikian, namun pada
prakteknya tidak selalu perlu dan bahkan tidak memungkinkan.
Makin besar resolusi makin banyak pixels yang ada di dalam stroke
yang kita gunakan dan makin berat komputer kita bekerja, apalagi jika
kita menambahkan pressure levels dengan variable flow. Kita perlu sebuah
komputer yang powerful agar resolusi besar bisa dikerjakan dengan
nyaman.
Resolusi yang besar akan mendapatkan detil yang sangat tinggi. Berlawanan dengan pemahaman seorang pemula, sebenarnya tidak semua painting harus detil.
Bahkan saat kita mengerjakan painting realistik, kita bisa mengabaikan
beberapa informasi dalam sebuah obyek dan tidak perlu membuatnya detail –
apa yang kita lihat dalam kenyataan tidak akan pernah seperti foto.
Saat kita menggunakan resolusi yang makin besar, kita akan tergoda
untuk menambahkan beberapa detail di sana sini karena memang
memungkinkan. Akan ada banyak level detail yang akan dikerjakan, namun
kita akan banyak menggunakan satu tema brush atau elemen lain yang
seragam dalam satu artwork. Jika kita ingin painting dalam waktu yang
cepat, misalnya obyek dengan detail bulu, jangan menghabiskan waktu
terlalu banyak untuk bagian hidung dan mata,- atau hal itu akan membuat
painting terlihat tidak konsisten dan nampak tidak selesai.
3. Hasil akhir gambar kita yang terlalu besar
Misalnya kita telah menemukan resolusi yang tepat untuk painting
kita, perhatikan resolusi dari obyek yang kita buat. Mungkin kita perlu
banyak pixel untuk membuat gambar kita detail, namun jarak yang jauh
juga akan membantu gambar menjadi lebih detail. Seperti contoh di bawah
ini: Detail yang mungkin bisa mengganggu pada painting dengan resolusi tinggi….. … dengan resolusi yang tepat, kita bisa menyingkirkan “yang tidak detail” melalui ukuran obyek yang lebih kecil.
Sebelum menyimpan hasil final gambar kita, kita akan me-resize-nya.
Tidak ada ukuran pasti, sesuaikanlah dengan kebutuhan kita. Aturannya
adalah: makin banyak detail makin sedikit detail yang akan hilang
apabila disimpan pada resolusi tinggi. Apabila gambar kita bergaya
“sketchy” akan terlihat lebih bagus disimpan dalam versi yang lebih
kecil. Untuk mempelajari hal ini kita bisa melihat resolusi yang
digunakan artist-artist favorit kita ketika memposting karyanya.
Satu hal lagi, saat meresize gambar kita, cek algoritma yang terbaik.
Beberapa akan membuat gambar kita terlihat lebih tajam yang mungkin
tidak kita inginkan.
Gunakan resolusi untuk cetak
Apabila kita menghendaki painting kita untuk dicetak sebagai poster,
ukuran yang cukup ideal adalah dengan menggunakan ukuran yang tersedia
di photoshop, A3 dengan resolusi 300dpi. Resolusi cukup detail dan masih
bisa diperbesar saat dicetak. Komputer juga tidak mendapat beban yang
terlalu besar ketika mengerjakannya (dengan penggunaan layer yang
bijaksana tentunya).
2. Memulai dengan background putih
“Apa salahnya dengan dasar putih? Bukankah ini terlihat netral dan seperti kertas?”
Masalah sebenarnya adalah karena tidak ada warna “netral”. Ketika dua
warna bertemu maka akan muncul peran kedua warna satu sama lain. Putih +
warna A, warna A akan nampak lebih “gelap”. Apapun tujuan kita, apabila
kita menggunakan dasar putih maka kita akan cenderung menggunakan
warna-warna yang lebih gelap. Mari kita lihat perbandingannya: Derajat gelap yang sama terlihat relative lebih terang pada dasar yang berbeda.
Pada media tradisional kita menggunakan dasar putih karena secara
teknis lebih mudah untuk memberikan warna gelap pada dasar terang, namun
tidak akan terjadi hal sama dengan media digital.
Bahkan kita bisa memulai dengan warna dasar hitam dan itu adalah ide
yang sama buruknya dengan menggunakan dasar putih. Warna paling netral
adalah 50% gray (#808080)
Mengapa? Warna dasar mempengaruhi cara kita melihat warna lain. Pada
dasar putih, warna gelap akan terlihat lebih gelap, dan kita akan sering
menghindarinya. Sebaliknya dengan dasar hitam, warna terang akan
cenderung kita hindari. Hasil pada kedua kasus tadi adalah gambar kita
memiliki kontras yang lemah dan saat kita menambahkan warna lain pada
background.
Di bawah ini bisa kita lihat buktinya: Gambar ini dibuat dengan dasar hitam, ketika akan menambahkan warna cerah terlihat sangat kontras.
Artist yang telah berpengalaman biasanya menggunakan warna apa saja
saat memulai painting dan membuat yang terbaik. Namun apabila kita
merasa kurang percaya diri dengan teori warna, mulailah dengan
warna-warna netral.
3. Hindari kontras yang terlalu kuat
Mata kita mudah tertipu. Tentu saja, kadangkala persepsi kita tentang terang dan gelap akan terganggu oleh buruknya kualitas monitor kita.
Jika kita menggunakan laptop, mungkin kita akan mendapati kontras yang
berubah-ubah saat kita menggeser derajat layar kita. Bagaimana kita
mencapai kontras yang sesuai apapun monitor yang kita gunakan?
Sebagus apapun monitor kita, menatap terlalu lama pada monitor kerja
kita akan membuat persepsi kita berubah. Jika kita merubah shadingnya
pelan-pelan, kontras akan terlihat bagus karena lebih baik dari shading
sebelumya. Obyek di bawah ini akan keliatan menarik:
…. dan kita menyadari sampai kita membandingkan dengan gambar yang
lebih kontras. Siapa tahu, ketika kita bandingkan satu dan yang lainnya,
persepsi kita terhadap kontrasnya mendadak berubah.
Photoshop memiliki sebuah tools yang membantu dalam situasi seperti
ini. Tool Levels dengan fitur histogramnya membantu menunjukkan berapa
banyak shade yang kita miliki dalam artwork kita. Kita bisa membuka tool
Levels pada opsi Image > Adjustments > Levels atau dengan jalan pintas Control-L.
Bagaimana cara kerjanya? Lihat pada contoh berikut:
Hampir seimbang jumlah putih, hitam dan midtone
Hanya warna hitam dan warna midtone gelap
Hanya putih dan warna midtone terang
Hanya hitam dan putih tanpa warna menengah sama sekali
Can you read it from the histogram?
Kita bisa merubah level dengan cara seperti di bawah ini, Kita akan mendaptkan bentuk histogram yang ideal untuk artwork kita.
Histogram menunjukkan di mana banyak area midtones di artwork ktia
dan juga apakah artwork kita kekurangan gelap dan area terang. Apapun
yang kita lihat, itulah yang komputer katakan. Memang tidak ada resep
sempurna untuk levels (semua tergantung aspek konsep lighting artwork
kita), namun apabila tidak ada sama sekali area gelap dan terang
merupakan tanda bahwa artwork kita valuenya tidak bagus.
Bandingkan ketika kita menggeser slider: kontras
berubah membaik, namuk blending painting kita jadi nampak tidak bagus
karena sekarang gambar tersebut kekurangan midtones, namun hal itu tidak
sulit untuk diperbaiki.
Adakah cara untuk menggunakan shading dengan benar dari awal? Ada
cara yang akan membantu waktu kerja kita, yaitu dengan menggunakan lebih
sedikit shading: warna gelap, terang, midtone dan satu warna dengan
sedikit putih dan hitam.
Untuk mulai mengerjakannya, sebelum memulai painting buatlah rencana pencahayaan dalam sebuah bola:
Gambar sebuah lingkaran dan blok dengan warna paling tua (namun bukan warna hitam).
Tambah midtone.
Tambahkan shade yang lebih terang (hindari warna putih).
Tambah 2 midtone di antaranya.
Tambahkan sedikit putih dan hitam.
Kita bisa melihat letak masing-masing shading dalam histogram. Saat
kita menggabungkannya kita bisa melihat apa yang terjadi pada bola
tersebut. Gunakan bola ini sebagai swatches shading dan setelah itu
kita bisa memulai blending. Jika kita blend bola tersebut kita akan mendapatkan histogram yang sempurna.
Bandingkan kedua gambar ini, di mana satu gambar telah diubah
kontrasnya dan memerlukan blending ulang. Dengan hanya menaikkan kontras
tidak akan cukup membuat gambar kita memiliki shading yang sempurna
karena semua area shading akan mengalami perubahan.
4. Brush yang terlalu ribet dan ukuran stroke yang besar.
Kita sering berharap brush akan membantu kita menciptakan masterpiece
dengan cepat sementara stroke yang kecil sangat menguji kesabaran kita.
Saat kita bandingkan media tradisional dan digital kita akan melihat
bagaimana media digital penuh dengan ribuan variasi brush, sementara
media tradisional hanya menawarkan brush yang sama untuk kita gunakan.
Di sinilah permasalahannya, dengan terbatasnya brush kita akan belajar
mengendalikan brush tersebut. Artist pro lebih sering
menggunakan brush simple dalam bekerja dan kemampuan mereka semakin
meningkat dengan detail yang makin rumit. Brush yang kompleks
akan membuat kita malas dan menghambat kita untuk mencapai sebuah hasil
dari proses yang kita ciptakan dari penguasaan kita terhadap brush
tersebut.
Saat memulai digital painting, wajar sekali kita ingin belajar
secepat mungkin, kita ingin hasil, sekarang! Custom Brush adalah jawaban
untuk keinginan itu. Kita ingin painting bulu, tersedia brush bulu,
banyak sekali brush custom tersedia untuk didownload.
Custom Brush tidaklah buruk dan memang sangat berguna.
Masalah terjadi ketika kita menjadikan custom brush sebagai “dasar
kemampuan” kita.
Sebenarnya, apa yang harus kita lakukan adalah
mencoba memahami bahwa untuk menggambar bulu – misalnya kita tidak
harus menggambar satu persatu helai. Kita belajar bahwa apa yang kita
lihat tidak sesuai dengan realita. Kita juga belajar apa yang nampak dan
ingin kita buat tidak seperti yang kita pikirkan.
Tapi kita seringkali tidak melakukan itu, malahan kita menyerah
setelah berusaha menyelesaikan 1 helai bulu dan segera mencari sustom
brush bulu yang sesuai. Senang sekali akhirnya menemukan brush yang
sesuai di internet, dan kita lanjutkan painting kita. Hal ini sangat
mudah membuat ketagihan, dan ini membuat kita berhenti belajar sama
sekali dan lebih memilih mengunduh semua trik selama memungkinkan.
Nhah bandingkan dengan media tradisional, bagaimana mengatasi
hal ini? Jawabannya sederhana – hal yang sama yang akan kita lakukan
ketika tidak ada custom brush.
Apabila kita ingin berkembang
kita harus menghentikan kebiasaan seperti ini, singkirkan brush ribet
dari koleksi kita. Bertahanlah dengan sedikit brush simple dan itu akan
memberikan banyak pelajaran berharga. Janganlah mencari jalan pintas
ketika kesulitan muncul. Gambar di atas tidak menggunakan custom brush.
Menjadi terlalu besar.
Kesalahan umum lain yang sering terjadi adalah ukuran stroke yang
terlalu besar. Lagi-lagi karena ketidaksabaran menghadapi proses.
Aturannya adalah 80% proses painting akan menyita 20% waktu yang kita
gunakan. Artinya di mana kita mulai membuat skets, line art, bloking dan
shading simpel, maka kita akan membutuhkan 80% waktu lagi untuk
menyelesaikan seluruh pekerjaan kita. Jika kita telah melewati 2 jam
sketching dan membuat shading simple, maka masih akan ada 8 jam untuk
menyelesaikan artwork kita. Tragisnya, dalam 8 jam tersebut seringkali
progresnya sangat lambat dibanding 2 jam pertama. Menyedihkan ya?
Kita bisa lihat contoh di bawah pada awalnya proses gambar
relatif cepat dan akan melambat di pertengahan dan beberapa gambar
terakhir dengan perbedaan yang halus dikerjakan dalam waktu yang lebih
lama. Di titik mana kita harus berhenti ya?
Ini dia masalahnya, ketika gambar kita mendekati selesai, kita akan
merasa dorongan untuk segera menyelesaikan dan melihat hasil akhirnya.
Justru, di sinilah kita sebenarnya memulai. Mungkin ada yang bilang
“Saya akan berhenti di gambar ke-4 di atas”. Di sinilah apa yang
dirasakan oleh artist profesional yang akan mencapai titik ke-12, bahwa
mereka menilai bahwa proses yang lambat dan dengan detail yang terlihat
beda tipis itulah yang memiliki kontribusi 80% pada hasil akhir.
Solusinya cukup sederhana, jangan pernah berhenti ketika kita masih banyak menggunakan stroke berukuran besar
(kecuali speed painting). Stroke besar digunakan pada awal painting,
pada 20% bagian proses. Gunakan stroke besar untuk bloking, mengatur
area lighting, menambah area warna yang luas, dan mulailah pelan-pelan
menggunakan stroke yang kecil dalam kanvas yang di-zoom in. Pada umumnya
makin bnayak tempat area gambar kita bersentuhan dengan brush (dan
makin banyak kita merubahnya, seperti menambah beberapa detail kecerahan
dengan stroke kecil), painting kita akan semakin terlihat halus.
Hal yang bisa dipelajari dari hal ini adalah, karena 80% painting
yang kita kerjakan tadi hanya berperan kecil pada hasil akhir, kita bisa
melakukannya dengan lebih santai dan simpan energi kita untuk fase-fase
akhir painting kita. Ingat: “Tidak semua painting harus diselesaikan
hanya karena kita telah memulainya”. Dengan menyingkirkan hal-hal yang
tidak kita yakini, kita bisa menyimpan waktu kita yang telah terbuang.
5. Menggunakan terlalu banyak warna
Artist tradisional tidak memiliki koleksi warna sebanyak digital.
Mereka harus belajar bagaimana menciptakan warna sesuai keinginan
mereka. Bagaimana mencampur agar mendapat efek yang diinginkan.
Sepertinya ini sangat tidak nyaman, namun ini adalah sebuah anugrah
karena mereka mau tidak mau harus belajar tentang teori warna. Kita
sebagai artist digital pemula memiliki semua warna yang kita inginkan,
dan ini menjadi seperti beban buat kita….
Kita tidak bisa memahami warna dengan perasaan. Kita memang tidak
memerlukannya dalam kehidupan sehari-hari, namun kita sebaiknya mengubah
cara pandang kita tentang hal ini. Kita tidak bisa mengandalkan intuisi
kita karena bukan seperti itu cara memahami warna. Kita harus memahami
konsep warna yang berhubungan dengan 4 hal penting ini: Hue, Saturation,
Brightness, and Value.
Warna tidak bisa berdiri. Warna berdiri karena aspek-aspek lain.
Sebagai contoh, jika kita menginginkan warna terang, atau menurunkan
kecerahan warna dasar. Merah disebut warna hangat, menjadi dingin
tergantung dari nuansa di sekitarnya. Bahkan saturasi warna juga bisa
berubah karena aspek lain yang berhubungan. Bahkan
derajat warna bisa berubah karena nuansa warna di sekitarnya. Hal ini
sangat penting di dalam painting seperti halnya dalam dunia desain.
Seorang pemula yang tidak memahami teori warna ini akan mengisi
sketsnya dengan warna yang acak. Mereka memilih biru, kemudian
menambahkan hijau, tanpa menyadari bahwa ada banyak warna kehijauan dan
kebiruan yang sebenarnya bisa mereka pilih.
Beginilah pemula melihat warna:
Blues
Muddy blues
Grays
Blacks
Tapi……mengapa banyak sekali gradasi? Apakah benar-benar bermanfaat?
Jawabannya adalah TDAK. Yang perlu kita pahami adalah dari mana mereka
berasal dan apa gunanya. Lihat bagaimana seorang profesional melihat
pilihan warna:
Desaturated blues
Saturated blues
Bright blues
Dark blues
Rumit? Mungkin, tapi itu bukan alasan untuk mengabaikannya. Apabila
terlalu membingungkan, cobalah painting grayscale. Grayscale membantu
kita memahami tentang lighting, shading dan blending. Sill ini akan
sangat berguna sekali di masa depan. Lebih jauh lagi, warna adalah
“pemanis” bagi artwork kita. Artwork kita bisa jadi “manis” namun kita tidak bisa membangun artwork dari warna itu sendiri. Tidak ada berapapapun jumlah warna yang bisa membuat gambar kita bagus?
6. Picking warna langsung dari referensi.
Sangat sulit untuk menahan godaan ini. Hal ini sangat dimengerti.
Namun untuk mempelajari digital painting, kita harus mengerti dengan
baik tool eyedropper yang digunakan untuk “meminjam” warna dari
referensi. Mengapa sangat penting?
Pemula bisanya menggunakan warna orange pucat atau pink untuk kulit.
Sepertinya jelas, tetapi hasilnya jauh dari kesan alami. Walaupun kita
menggunakan referensi, ceritanya akan berbeda, hampir setiap pixel
memiliki gradasi yang berbeda, tidak hanya pink-kita bisa menemukan
merah, kuning, oranye, keunguan, kehijauan dan biru. Saturasi dan
kecerahan berubah tapi hasilnya sama sekali tidak seperti yang
diinginkan.
Ketika kita mengambil sampel warna, gambar kita seperti mendapatkan nyawa baru. Jangan
sampai kita tidak belajar apapun dari proses ini. Pelajaran kita
dapatkan adalah seperti halnya tracing, kita tidak bisa mengulang hal
yang sama saat tracing, demikian juga saat kita picking warna yang keren
dan kita tidak akan bisa mengulang prosesnya lagi. Prosesnya memang
mengesankan, tapi kita tidak mendapatkan kredit dari hal itu.
Ada satu hal penting lagi, picking warna bisa menghambat kemajuan
kita. Seperti halnya kita “membeli” 1 set warna tanpa kita tahu
bagaimana membuatnya. Sebenarnya kita telah memiliki color wheel dengan
slider yang bisa kita gunakan dengan bebas untuk menciptakan warna kita
sendiri.
Agar kita bisa memiliki skill yang memadai untuk menciptakan
sebuah warna yang sesuai, kita harus belajar melihat warna dengan baik.
Lihatlah obyek di sekitar kita dengan cermat, bagaimana obyek itu
memiliki hue, saturasi, kecerahan. Terus menerus menggunakan eyedropper
akan menghambat proses belajar kita. Gambar di atas adalah studi
dengan referensi tanpa menggunakan eyedropper. Bagi artist pemula
disarankan memilih obyek sederhana pada awal-awal studi.
7. Menambahkan warna pada gambar grayscale tanpa value yang benar.
Gambar di bawah dibuat dengan teknik grayscale dan diwarnai dengan
mode blending Color, Multiply dan Overlay. Saat gambar ini dibuat timbul
beberapa masalah saat menambahkan warna kuning di bagian yang terang
Pada versi grayscalenya terlihat bahwa hijau dan kuning sama-sama
gelap. Pada kenyataannya, secara natural cahaya tidak bekerja seperti
ini.
Sebagai pemula, banyak yang mempercayai bahwa semua warna memiliki
kecerahan yang seragam, demikian juga bayangan memberikan efek gelap
yang sama. Itulah kenapa teknik grayscale lebih nyaman karena kita bisa
lebih fokus ke shading dan menambahkan warna belakangan. Sayangnya
prosesnya tidak semudah itu dan perlu pemahaman yang lebih dalam lagi.
Satu hal adalah warna memiliki tingkat kecerahan yang tidak
tergantung pada adanya lighting. Saat kita mengabaikannya, mengakibatkan
warna yang kita hasilkan menjadi kusam. Warna yang kita tambahkan pada
gambar grayscale kita bukanlah bagian penting dari artwork itu
sendiri. Kita lihat bahwa value lebih penting dari warna dari contoh di bawah ini: Kedua gambar kepala mendapatkan warna yang sama dengan mode “colors”. Perhatikan bahwa value lebih penting dari pada warna itu sendiri.
8. Shading dengan Dodge dan Burn Tools
Dodge dan Burn tool adalah alat yang sering digunakan oleh pemula.
Kedua tool ini dipercayai sebagai bagian dari tool untuk painting. Kita
hanya perlu warna dasar dan memilih area yang ingin kita beri shading.
Sisanya akan diselesaikan oleh tool dan kita tidak akan berperan sama
sekali…jadi kita bukanlah bagian dari proses tersebut.
Tidak sepertiyang kita pikirkan, kedua tool tersebut hampir tidak
berguna dalam painting. Sebagai pemula kita sebaiknya menghindarinya.
Keduanya bukan “shading tool” Dodge tool bukan untuk menambah light dan
burn tool bukan untuk menambah shadow. Walaupun hasilnya kadang
memuaskan juga saat kita mulai digital painting.
Permasalahan bukan pada tool tapi pada kesalahan dalam memahami shading itu sendiri.
Sebagai pemula, obyek sering dianggap memiliki warna sama yang akan
berubah makin gelap di bawah bayangan dan makin terang ketika terkena
cahaya. Mungkin hal itu masih berlaku untuk gambar cell shading atau
gambar kartun, walaupun begitu itu hanyalah jalan pintas mempercepat
proses produksi artwork.
Mengapa kita tidak bisa menggunakan 2 tool tadi?
Teknik tersebut akan menghambat kemajuan kita. Shading adalah sebuah
hal kompleks. Tidak terbatas oleh “membuat lebih terang dan membuat
lebih gelap” Photoshop diciptakan untuk bekerja buat kita, bukan
sebaliknya kita bekerja untuk photoshop.
Teknik yang akan membuat obyek shading menjadi flat. Seberapapun
banyaknya tekstur yang kita tambahkan akan sia-sia. Seperti cara kerja
brush yang besar, kita tidak akan bisa menggunakannya untuk
menyelesaikan artwork kita.
Teknik ini akan mengacaukan warna itu sendiri. Warna seharusnya
tergantung pada lingkungan sekitar (cahaya langsung dan cahaya ambient),
kedua tool tesebut akan memperlakukan semua obyek dengan sama.
Contoh
gambar di kiri menggunakan shading dengan dodge dan burn tool sementara
di sebelah kanan menggunakan teknik pemahaman warna yang benar.
Shading dengan hitam dan putih
Teknik ini menggunakan hitam sebagai bayangan dan putih sebagai
terang dalam shading. Hal ini berawal dari anggapan bahwa setiap warna
berawal dari hitam sebagai warna tergelap dan putih sebagai warna paling
terang. Anggapan ini mungkin benar, namun hanya berlaku pada foto yang
mengalami over dan under exposure.
Kita selalu mencari tips paling sederhana dan mudah diingat tentang
gelap terang ini, yang paling mudah diingat. Warna lebih kompleks dari
hal ini dan hanya akan berlaku pada gambar grayscale.
Shading yang monoton dan tidak variatif
Masalah berikut yang bisa terjadi saat membuat shading adalah
berapa sebenarnya warna yang digunakan dalam shading. Contoh gambar di
bawah, warna jingga sebagai warna gambar karakter, kuning sebagai warna
terang dan biru sebagai warna gelap/bayangan. Sumber cahaya adalah warna
kuning dan warna ambien adalah warna biru dari langit. Teknik ini
membuat shading menjadi lebih menarik dibandingkan penggunaam hitam dan
putih. Tapi apakah ini cukup?
Hanya dengan menggunakan 3 warna, hasil yang kita dapatkan belum
cukup natural. Seperti yang kita tahu, setiap benda memantulkan cahaya
yang sulit diprediksi. cahaya memantul pada semua permukaan termasuk
obyek 3D yang kita kerjakan. Warna langit yang terpantul bisa berubah
menjadi kehijauan karena pengaruh warna rumput. Lihat gambar di bawah
dengan shading yang variatif. Gunakan brush dengan stroke yang besar
untuk membuat warna lebih mencampur. Gunakan stroke kecil untuk membuat
kesan bertekstur.
9. Blending dengan Soft Brush
Ada 2 metode yang dikenal saat memulai belajar digital painting, keduanya didesain untuk mendapatkan hasil yang cepat:
Blending dengan soft brush
Blending dengan Smudge/Blur Tool
Seperti yang kita ketahui, hasil yang cepat sebenarnya membuatnya
tidak sepenuhnya terkontrol. Stroke yang besar membuat obyek menjadi
flat dan tidak natural. Bahkan ketika ditambahkan tekstur tetap tidak
akan membantu. Teknik seperti ini hanya bagus digunakan pada fase
awal-awal painting.
Jika kita menginginkan mendapatkan tekstur yang bagus dan natural,
gunakan brush yang lebih solid dengan flow control Pen Pressure.
Pilihan brush seperti ini membuat kita bisa mengontrol jumlah warna yang kita inginkan.
Dengan atribut ini, kita bisa mencampur 2 warna menggunakan tekanan yang berbeda saat menggoreskan kuas.
Jika kita ingin tekstur lebih smooth, gunakan pick color untuk meratakan warna di area perbatasan warna.
Untuk tekstur yang lebih kuat, gunakan textured brush jika perlu.
Blending di awal fase ini jangan terlalu menyita waktu kita, masih banyak waktu yang akan kita pakai pada proses berikutnya.
Nanti ktia bisa menggunakan brush yang lebih kecil dan bertekstur
untuk blending. Tidak perlu menggunakan smudge tool, soft brush, hanya
menggunakan eyedropper dan hard brush dengan variable flow. Ingat,
blending tergantung dari tekstur permukaan, sehingga kita tidak bisa
menggunakan cara yang sama untuk semua material.
10. Menggunakan tekstur 2D untuk mendapatkan bentuk 3D
Photo textures adalah cara paling ampuh membuat gambar terkesan keren
yang sering digunakan saat mulai belajar painting. Ketika warna dan
shading justru membuat obyek terlihat halus seperti plastik, photo
textures mungkin bisa menolong, atau malah bisa membuatnya lebih buruk?
Lihat contoh berikut.
Obyek harus diberikan shading sebelum ditambahkan tekstur. Bagian paling sulit karena obyek kita tidak sepenuhnya dishading.
Tekstur bisa kita dapatkan dari internet atau dari photoshop. Di
bawah ini adalah contoh tekstur dari photoshop “inverted Screen Door”.
Jika kita mengganti mode blend dengan overlay, kita akan melihat
beberapa bagian menjadi lebih terang. Mungkin bisa membuat gambar lebih
bagus ketika beberapa shading ikut berubah karena mode ini, tapi ini
tidak sepenuhnya bisa kita kontrol. Walaupun overlay bukan mode blending
terbaik, namun bisa menjadi panduan untuk melihat sejauh mana tekstur
sesuai dengan keinginan kita.
Pola tekstur harus sesuai dengan kontur obyek, karena itu kita perlu menyesuaikan konturnya dengan cara berikut:
Menggunakan Free Transform Tool (Control-T) pada Warp mode
Filter > Liquify
Edit > Puppet Warp
Untuk bentuk bulat bisa menggunakan Filter > Distort > SpherizeSebelum menggunakan Puppet Warp Setelah menggunakan Puppet Warp
Mode Overlay menaikkan kecerahan pada bagian yang tercover area
putih. Kita bisa menggunakan multiply yang akan menghilangkan area putih
pada tekstur namun akan membuat area grey lebih gelap dari yang kita
inginkan. Untuk kita kita bisa mengatur transparansi dari blending yang
kita butuhkan.
Klik 2 kali pada layer dan muncul jendela sebagai berikut untuk mengatur transparansi. Tahan Alt untuk “memecah” slider dan mendapatkan opsi gradual effect tambahan.
Di sini kita harus memahami apa tekstur itu sebenarnya. Tekstur
adalah sebuah “pola kasar” pada permukaan obyek. Tekstur adalah kasar
lembutnya sebuah permukaan. Apabila sinar mengenai permukaan, sinar itu
akan memantul dengan beragam. Jika permukaan kasar, pantulan cahaya akan
membentuk pola-pola tertentu, itulah tekstur yang kita lihat.
Karena sinar menghasilkan tekstur, karena itu tidak akan tercipta
tekstur tanpa lighting. Bagaimana dengan area bayangan yang tidak
terkena sinar? Untuk itulah kita perlu mengurangi tekstur di area gelap
(apabila masih ada ambient light) atau menghilangkan sama sekali pada
area tanpa cahaya. Ingat, celah-celah tekstur sebenarnya bayangan, jadi
jangan membuatnya lebih gelap dari area normal yang paling gelap.
Memberikan tekstur dengan cepat dan mudah bisa kita lakukan jika kita
mengerti apa yang perlu kita lakukan setelah memilihnya. Setiap tekstur
tentunya berbeda, beberapa langsung terlihat bagus, dan beberapa harus
dirapikan lagi.
Seperti halnya dalam prinsip membuat painting yang dibahas di atas,
menambahkan tekstur adalah hal yang mudah, namun untuk membuatnya
keliatan keren memerlukan cukup waktu. Mungkin akan memakan banyak
waktu, tapi akan memberikan hasil yang cukup berbeda. Bola
pertama memiliki tekstur yang flat dengan mode Overlay dan opacity yang
rendah, gambar kedua sama namun ditambahkan distorsi. Bandingkan dengan
gambar ke-3 yang telah mendapatkan penyesuaian value dan blending.
Kesimpulan
Pada awal-awal mempelajari painting, masalah timbul dari dorongan
untuk mendapatkan hasil bagus dengan sedikit usaha dan dalam waktu yang
singkat. Hal ini bukan karena kurangnya skill, namun lebih karena
pengetahuan tentang photoshop sebagai media pembuat artwork. Hal
tersebut akan membuat artist mencari tools dan trik dan bukannya fokus
pada pemecahan masalah yang dihadapi. Kita tidak bisa jadi digital artist suatu hari nanti, hanya bermodal sebuah software grafis.
Photoshop hanyalah sebuah alat dengan brush dan warna, dan sangat luar
biasa fungsinya. Photoshop hanya akan menghasilkan sesuatu yang kita
kuasai. Jika kita ingin membuat sesuatu yang keren dengan photoshop,
perlakukan seperti kita menggunakan kanvas digital dengan warna digital.
Lupakan tentang tool-tool menggoda seperti filter, brush atau blend
mode. Paintinglah seperti kita melakukannya di atas kanvas tradisional.
Pelajari teori warna, perspektif, anatomi – semua yang wajib
dipelajari oleh “artist normal”. Dengan berjalannya waktu kita akan
memahami bagaimana menggunakan tool dalam photoshop untuk mengerjakan
semua tugas itu dengan lebih mudah dan cepat – tapi jangan sampai salah
jalan dengan mengejar efek yang luar biasa tanpa disertai pemahaman yang
baik. Apa yang telah ditulis di sini menitikberatkan pada perkembangan
skill tanpa perlu ketergantungan pada solusi yang ditawarkan oleh tool
digital. Kesabaran dalam proses adalah kunci utama.
0 komentar:
Posting Komentar